School of Life with Cancer

Halo, saya Wince. Seperti yang sudah dijelaskan di profil saya, saat ini saya sedang berguru dengan kanker payudara dan dalam masa pembelajaran yang bernama kemoterapi. Untuk sementara, saya akan jarang menulis atau menanggapi pertanyaan karena saya sendiri sedang membutuhkan banyak waktu untuk self-healing bersama guru baru saya ini. Apa yang saya tulis dan bagikan tidak ada niat menggurui sama sekali, hanya ada niat berbagi dengan harapan dapat bermanfaat bagi yang membutuhkan.


Padahal kamu makannya sehat dan rajin yoga ya, tapi bisa kena kanker.”

Kalimat yang sering kali aku dengar dari sekelilingku, dari orang-orang yang merasa kenal diriku.

Yah, aku memaklumi, toh orang akan menilai sesuai level persepsi mereka. Sukurlah aku sudah banyak belajar dari guru baruku si kanker payudara. Guru baruku ini membuatku harus belajar mengenali diriku sendiri yang otentik, kemudian menerima dan mencintai diriku apa adanya.

Benar memang, enam tahun belakangan ini aku sudah banyak merubah cara makan ku, ditambah dua tahun belakangan ini juga aku rutin olahraga (yoga). Tapi toh mereka tidak tahu bagaimana cara hidupku lebih dari dua puluh tahun sebelumnya. Tidak tahu sebanyak apa makanan prosesan yang buruk yang sudah masuk ke tubuhku lebih dari dua puluh tahun ini, seperti apa pola hidup dan pola pikirku yang jauh dari baik dan sehat daripada sebelumnya, maupun pergumulanku selama enam tahun belakangan ini dalam mempelajari hidup sehat. “Tomat”, tobat dan kumat, maju dan mundur karena mengejar kesempurnaan yang tak kunjung datang.

Semuanya hanya aku yang paling tahu dan mengerti. Tidak perlu aku jelaskan karena aku tidak berhutang penjelasan pada siapapun tentang perjalananku ini. Tapi aku hanya ingin sedikit berbagi karena mungkin perjalananku bisa bermanfaat juga untuk orang lain.

Aku tidak akan membahas tentang “pantangan” makanan apa yang dianjurkan dokter. Ini tentang kesadaranku untuk mencintai diriku sendiri dengan memberinya makanan yang bisa menutrisinya dengan baik, memberinya kesempatan merasakan batin yang jernih dan damai apa adanya.

Kita pikir kita sedang mencintai diri kita ketika kita memaksakan diri tampil maksimal dengan segala beban bahan kimia yang dibungkus nama skincare, kosmetik dan segala perawatan fisik lainnya.

Kita pikir kita sedang mencintai diri sendiri ketika kita memaksakan kaki kita memakai sandal hak tinggi yang lebih sering melukai kaki kita, atau tas mahal bermerek yang sebenernya tidak nyaman dikantong maupun dipakai.

Kita pikir kita sedang mencintai diri sendiri ketika kita berusaha membentuk tubuh kita supaya memiliki kotak-kotak di perut atau bagi yogis seperti ku: memaksa badan berpose asana sekeren mungkin.

Ternyata yang kita cintai bukan diri kita yang otentik. Kita hanya sedang mencintai diri kita ketika orang lain memberikan persetujuan atau bahkan pujian yang memvalidasi kita tampak memesona atau keren dari tampilan luar sesuai standar mereka.

Kita pikir kita sedang mencintai diri kita ketika kita makan makanan enak yang tidak sehat sebagai alasan bahwa itu adalah hiburan ketika kita sedih atau hadiah ketika kita merasa senang. Tidak jarang kita dengar kalimat pembenaran seperti: martabak atau bakmie itu hadiah untuk tubuh yang sudah kita paksa berolah raga untuk membakar kalori.

Ternyata itu bukan hadiah untuk tubuh kita, itu hanya memanjakan lidah dan setelah menelannya maka organ dalam kita yang menerima ganjarannya. Mereka bersusah payah mencerna apa yang kita masukkan. Kita tidak menghargai tubuh kita sampai suatu hari mereka mulai mogok kerja alias penyakit mulai datang.

Tanpa disadari, alih-alih menghargai tubuh, tetapi kita malah menghukumnya. Kita sering tanpa sadar menghukum diri kita sendiri. Ketidak-sadaran ini sungguh merugikan, ya?

Guru baru ku si kanker lah yang menyadarkan ku. Ternyata selama ini aku banyak menghukum diri ku sendiri, aku lupa merawat diriku sendiri. Kemana saja aku selama ini?

Yuk, kita sama-sama belajar untuk lebih berkesadaran! Gunakan akal sehat kita, lebih banyak mendengarkan batin kita, belajar merawat yang di dalam diri kita daripada sibuk menyenangkan apa yang ada di luar diri kita. Finally, jangan lupa untuk memaafkan diri kita juga ya ketika kita belum mampu melakukan semuanya dengan benar dan sempurna. Kesempurnaan itu memang bukan porsi kita, karena sempurna hanya milik sang pencipta.

Kita tidak harus mencintai diri kita karena kesempurnaan kita, kok. Kita hanya butuh mencintai ketidaksempurnaan dalam diri kita masing-masing. Berjalan secara perlahan di perjalanan berkesadaran ini tidak salah juga, kok. Itu jauh lebih baik daripada tergesa-gesa, berlari dan akhirnya kelelahan dan menyerah.

Kalau aku sendiri, sampai sekarang pun masih dalam tahap belajar. Bedanya dengan di masa awal-awal dulu, sekarang aku tidak menuntut kesempurnaan lagi. Aku tidak lagi menilai apalagi menghakimi diriku sendiri. Aku belajar menikmati perjalanan ini dengan segala kekuranganku. Aku berusaha tapi juga belajar memaafkan diriku. Aku rasa kata-kata ini cukup bisa mengingatkan ku kalau aku mulai goyah: “Love food that loves you back, do things that love you back“.

Belajar berkesadaran ketika akan makan, bertindak dan berpikir: “Apakah benar aku membutuhkan ini? dan apakah benar ini baik untuk tubuh dan batin ku?

Yuk, kita sama-sama mulai belajar dimulai dari sekarang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s