Allergy, shoo! Go Away! (Part 1)

Masalah alergi memang selalu jadi topik yang seru. Rasanya, sudah berkali-kali membahas topik ini, tetapi masih banyak teman-teman Namaste yang menanyakan again and again, and we know how hard it is to fight allergy. Apalagi, seringkali alergi ini terjadi pada anak-anak, bahkan bayi, yang tentunya tidak hanya meresahkan penderitanya tetapi juga orang-orang di sekitarnya. Alergi memang tidak menular, tetapi alergi sangat mungkin diturunkan dari orang tua. So, kemungkinan anak menderita alergi jadi lebih besar jika orang tuanya juga alergian. Saya adalah salah satunya. Alergi ini itu sejak remaja dulu, ketika Emma lahir, saya tidak menyangka kalau alergi Emma akan seburuk itu. Let’s start from Emma’s story.

Perjalanan Eksim Emma dimulai dari usia 4.5 bulan. Saya ingat betul, sehari sebelumnya saya makan keju dalam jumlah yang cukup banyak. Keesokan harinya, Emma diare (buang air hampir setiap 10 menit) dan diakhiri dengan pup berlendir dan berdarah. Panik? Banget!

Saya tanya ke dokter spesialis anak (DSA), langsung dicurigai bahwa hal ini ada kaitannya dengan alergi. She said, “Tidak apa-apa, tidak perlu panik… pantau saja.”, dan syukurlah setelah itu pupnya tidak berdarah lagi. Namun, sejak saat itu, eksimnya mulai muncul. Merah-merah, gatal, kering. Dimulai dari pipi, tangan, kaki, hingga ke seluruh badan.

Karena masih ASI ekslusif, sumber satu-satunya alergi Emma adalah saya. Or so I thought, karena DSA Emma pada saat itu mengatakan bahwa apa yang saya makan tidak berpengaruh banyak terhadap ASI yang dikonsumsi Emma. Pada kenyataannya, Emma selalu alergi, merah, kering, bahkan sampai berdarah. Akhirnya, saya mencoba cari informasi lain, baca ini dan itu, mencoba mencari solusi yang tidak saya temukan di dokter.

Beberapa sumber yang saya baca pada saat itu mengatakan bahwa benar adanya apa yang saya makan dapat menyebabkan alergi pada anak, we are indeed what we eat. Akhirnya saya memutuskan untuk diet. Saya berhenti mengonsumsi susu dan turunannya, telur, makanan laut, dan kacang-kacangan. Hasilnya? Berat badan saya turun drastis dan cenderung tidak sehat. Bukan hanya karena diet semata, tetapi juga dipicu oleh stres. Yes, kejadian alergi Emma ini membuat saya stres setengah mati.

Memangnya kenapa sih? ‘Kan dokter sudah bilang tidak apa-apa?

Bagaimana tidak, setiap kali jalan-jalan keluar rumah, orang lain selalu bertanya tentang kondisi Emma.

Itu anaknya kenapa?

Habis nyusu tidak dilap ya?

Alergi ASI deh, pasti

… dan omongan menyakitkan lainnya. Sebagai ibu di masa kini, pasti banyak sekali yang paham perasaan saya. Rasanya malas sekali untuk pergi keluar rumah dan bertemu orang lain. Tidak bisa dipungkiri, hal ini membuat saya sangat stres, ditambah kondisi Emma yang juga membuat sedih.

Banyak sekali orang dengan mudahnya menyuruh saya untuk stop ASI saja dengan alasan ‘kasihan anaknya’. Well, pada saat itu hati saya terasa sangat ganjal, rasanya berhenti ASI bukanlah hal yang tepat. Apalagi saya juga tidak ada masalah dengan produksi ASI, jadinya saya merasa menyalahi kodrat jika harus berhenti.

Please remember mommies, berhenti ASI mungkin memang terdengar mudah. Jalan keluar yang kelihatannya paling cepat, anak mungkin tidak gatal lagi dan kita tidak perlu diet ketat yang menyita waktu, hati dan pikiran. TETAPI… ASI adalah makanan terbaik untuk si anak, bahkan selama enam bulan pertama hidupnya mereka cukup hanya mengonsumsi ASI saja! ASI juga adalah antimikrobial dan probiotik alami yang penting untuk pencernaan dan kekebalan tubuhnya.

Secara tidak langsung, dengan memberikan ASI kita memberikan bekal untuk si kecil, semacam investasi jangka panjang. ASI bukanlah penyebab alergi, namun ASI dapat mengandung bahan yang menyebabkan alergi KARENA apa yang dikonsumsi oleh ibunya. Seiring berjalannya waktu, dengan eliminasi makanan yang saya konsumsi, sedikit banyak saya mulai mendapatkan gambaran tentang makanan apa saja yang menimbulkan alergi pada Emma. Sebisa mungkin saya hindari supaya tidak ada trigger. Memang sih, kulit Emma masih jauh dari mulus, namun sangat membaik.

Finally, datanglah waktunya Emma untuk MPASI. Bagi sebagian ibu, ini adalah masa yang menyenangkan. Bagi saya? Super stressed out! Waktunya bagi saya untuk belajar lebih banyak tentang alergi Emma. Kalau dulu sumber alerginya diolah dulu dalam tubuh saya, baru Emma konsumsi melalui ASI, sekarang dia konsumsi secara langsung tanpa saya olah dulu. Hasilnya, kalau makanan tersebut adalah alergen yang ditolak oleh tubuhnya, efeknya akan sangat parah.

Selama diet ketat, yang saya lakukan adalah menghindari protein, karena bagi saya itulah yang paling mungkin menyebabkan alergi. Tidak pernah sekalipun terpikir bahwa ada manusia di dunia ini yang alergi pada buah. I mean, come on, it’s just fruits! Tetapi ternyata, Emma alergi pada beberapa jenis buah. Salah satu buah pertama yang Emma konsumsi adalah pepaya, yang juga menjadi buah pertama yang menyebabkan alergi.

Hasilnya? Selain buang air besar sekitar 4 kali (Emma biasanya 1-2 kali saja sehari), beberapa jam kemudian seluruh pipi, leher, dan bagian yg terkena pepaya merah menyala (seperti di gambar di bawah ini).

Emma, beberapa saat setelah mengonsumsi pepaya (foto 1) dan kiwi (foto 2)

Panik seketika, saya langsung bawa Emma ke dokter sambil berderai air mata. Sesampainya di dokter, saya langsung dimarahi. Saya ingat, di tengah kepanikan saya kala itu, ada anak dengan kondisi gawat darurat kejang-kejang dan sedang tindakan oleh DSA Emma itu. Setelah selesai tindakan dan berlanjut menangani Emma, beliau mengatakan hal yang tidak akan pernah saya lupakan:

Anakmu cuma merah-merah, gatal, kering. Mungkin bulan depan hilang, mungkin juga seumur hidupnya dia alergi. Tetapi dia masih bernyawa, masih hidup! Deal with it, cari solusinya dan jadi lebih kuat!

Di situ saya sungguh merasa tertampar. Betapa konyol hal yang saya lakukan, meratapi dan menangisi nasib anak saya yang alergi, di saat orang lain di luar sana berjuang untuk bertahan hidup. Hal ini menjadi pengingat bagi saya untuk tidak menyerah pada keadaan, saya yakin ada solusi.

Ditambah lagi, kita sebagai ibu adalah dokter terbaik bagi anak-anak kita. Bukan berarti kita bisa sembarang memutuskan persoalan kesehatan si kecil, banyak hal-hal yang hanya bisa diputuskan oleh dokter. Tetapi kita harus sadar, bahwa dokter harus menolong banyak orang, sehingga fokusnya pun terbagi untuk banyak pasiennya. Kita sebagai ibu yang bisa melihat dan mengamati, dengan sabar mencari jalan keluar kesembuhan anak kita. Now, I can gladly say, thank God we did that, Emma sudah terlepas dari belenggu alergi akut.

To be continued…

One thought on “Allergy, shoo! Go Away! (Part 1)

  1. Anak saya jg begini sis.. dr baru lahir, sampai klo kita habis makan roti lupa cuci tangan peganh dia aja dia alergi.. skr anak sy dah 5thn msh alergi klo dibawa resto.. mejanya mungkin kurang bersih matanya bs bengkak2… semangat sis mang kdng org2 mulutnya parah .. Kasihaninlah mereka krn mereka tidak mengerti

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s